Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengapa Istilah Praaksara Lebih Tepat Dibandingkan dengan Istilah Prasejarah?

Ketika kita berbicara tentang masa lampau manusia, terdapat istilah yang sering digunakan untuk merujuk pada periode sebelum penulisan atau rekaman sejarah tertulis.

Dalam bahasa Indonesia, istilah yang umum digunakan adalah "prasejarah." Namun, beberapa kalangan mulai mempertanyakan keakuratan dan implikasi dari istilah ini, dan mengusulkan penggunaan istilah alternatif, yaitu "praaksara."

Dalam artikel ini, kita akan membahas mengapa istilah "praaksara" lebih tepat dibandingkan dengan istilah "prasejarah," dengan fokus pada landasan historis, implikasi sosial, dan alasan linguistik.

Lukisan Manusia Purba
Foto: pxhere.com

Kenapa Istilah "Praaksara" Lebih Tepat Dibandingkan dengan Istilah "Prasejarah"?

1. Landasan Historis dan Signifikansi Konteks

Istilah "prasejarah" merujuk pada masa sejarah manusia sebelum adanya catatan tertulis.

Namun, seiring berjalannya waktu, arkeologi dan penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa manusia di masa tersebut tidaklah hidup dalam ketidaktahuan atau ketidakpengetahuan total.

Mereka telah mengembangkan sistem komunikasi, seni visual, dan budaya material yang mendokumentasikan kehidupan dan aktivitas mereka.

Penggunaan istilah "prasejarah" mungkin tidak sepenuhnya akurat dalam menggambarkan kompleksitas dan kecanggihan masyarakat di masa tersebut.

Sebaliknya, istilah "praaksara" merujuk pada masa sebelum adanya sistem penulisan.

Ini lebih akurat menggambarkan bahwa manusia di masa tersebut belum mengembangkan sistem tulisan formal, tetapi bukan berarti mereka tidak memiliki bentuk komunikasi atau dokumentasi lainnya.

Dengan menggunakan istilah ini, kita mengakui bahwa aktivitas dan pencapaian manusia di masa tersebut telah ada, tetapi belum terdokumentasikan dalam bentuk tulisan.

2. Implikasi Sosial dan Kultural

Penggunaan istilah "prasejarah" memiliki implikasi bahwa masa tersebut adalah "pra-sejarah" atau masa sebelum adanya sejarah.

Ini dapat menunjukkan bahwa masa tersebut dianggap sebagai masa yang tidak berarti atau tidak memiliki nilai sejarah yang signifikan.

Pandangan ini dapat merendahkan dan meremehkan kontribusi dan pencapaian manusia di masa tersebut.

Sementara itu, istilah "praaksara" mengakui eksistensi dan kontribusi manusia di masa tersebut, bahkan jika mereka belum mengembangkan sistem penulisan.

Ini memandang masa tersebut sebagai periode dengan nilai budaya, pengetahuan, dan perkembangan sosial yang penting.

Mengganti istilah dapat menghilangkan pandangan merendahkan terhadap masa tersebut dan menghargai keberadaan manusia di masa praaksara.

3. Alasan Linguistik dan Pengertian yang Lebih Tepat

Dari segi linguistik, istilah "prasejarah" mengandung konotasi bahwa masa tersebut sebelum adanya sejarah tertulis adalah masa yang "belum ada sejarah."

Namun, dalam realitasnya, manusia di masa tersebut memiliki beragam bentuk komunikasi dan pencatatan, bahkan jika bukan dalam bentuk sistem penulisan yang formal.

Istilah "praaksara" lebih akurat karena berfokus pada ketiadaan sistem penulisan, bukan ketiadaan sejarah.

Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa manusia pada masa praaksara telah mengembangkan cara-cara alternatif untuk menyampaikan informasi, termasuk melalui seni, simbol, dan praktik lisan.

4. Mengapresiasi Kecanggihan Praaksara

Dalam kaitannya dengan arkeologi dan penelitian sejarah, mengganti istilah "prasejarah" dengan "praaksara" memberikan pandangan yang lebih inklusif tentang masa tersebut.

Ini mengakui kecanggihan budaya dan peradaban manusia di masa praaksara, serta mendorong kita untuk lebih mendalami pencapaian mereka dalam berbagai bidang seperti seni, teknologi, dan organisasi sosial.

Kesimpulan

Dalam rangka menghormati dan mengakui nilai budaya serta kecanggihan masyarakat manusia di masa praaksara, penggunaan istilah "praaksara" lebih tepat dan akurat daripada istilah "prasejarah."

Istilah baru ini menghargai pencapaian dan aktivitas manusia di masa praaksara tanpa mengabaikan fakta bahwa tulisan formal belum dikembangkan.

Melalui perubahan ini, kita dapat memberikan apresiasi yang lebih besar terhadap peran dan kontribusi manusia di masa lampau, serta melihat masa praaksara sebagai bagian integral dalam perkembangan manusia dan peradaban.